Thursday, September 6, 2018

NARASI NEGERI BERDAYA

NARASI NEGERI BERDAYA

Dalam perjalanan menyapa banyak sahabat di seluruh negeri, tema-tema diskusi selalu seputaran tentang keadaan bangsa dan bagaimana membuatnya lebih baik. Negara-negara di Asia Pasifik ini relatif memulai pembangunan paska perang dunia kedua. Startnya sama. Kondisi babak belurnya mirip-mirip. Tetapi mengapa laju pertumbuhan berbeda.

Pendapatan perkapita Republik Indonesia hari ini berada di 4.130$. Jika 1 Dollar sama dengan Rp 14.000,00 . Berarti rata-rata setiap warga negara hanya mendapatkan 57,8 juta setahun. Atau sekitar 5 juta per bulan. Hitungan ini pun adalah pembagian langsung dari 1T$ PDB dibagi 250 juta anak bangsa, dapatnya 4.000$. Kita belum berbicara apakah kekayaan negeri ini terdistribusi merata atau tidak.

Bandingkan dengan data pendapatan perkapita negara asia pasifik berikut :
- Singapura : 55.235$ : 14 kalinya Indonesia
- Jepang : 48.556$ | 12 kali lipat Indonesia
- Korea Selatan : 26.152$ | 6 kali lipat Indonesia, padahal merdeka selisih 2 hari dari Indonesia.
- Malaysia : 11.521$ | hampir 3 kalinya Indonesia.
- Thailand : 6.125$ | 1,5 kalinya Indonesia

Jika ukuran pendapatan per kapita negara maju adalah 7.000$. Maka Indonesia perlu melompatkan PDB hingga 2T (asumsi penduduk terus bertambah). Artinya, sebuah pertumbuhan ekonomi dengan pembesaran 100% dari semula. Dan jika kita hanya bertumbuh 5% per tahun, maka perlu 15 sd 20 tahun bagi negeri ini untuk menjadi negara maju. Apa tidak terlalu lama?

Saya mengawali pengantar ini dengan data, agar kita tidak memulainya dari opini yang tidak ada basis faktanya. Dari fakta riil kondisi ekonomi negeri secara makro, pada tataran mikro kita menghadapi persoalan pertumbuhan ekonomi yang rumit.

Sulitnya produk nasional bersaing dengan produk asing. Tidak lenturnya regulasi terhadap alam dunia usaha. Tidak terciptanya masyarakat yang punya daya beli. Dan kesemuanya itu bermuara pada rendahnya tingkat kesejahteraan.

Akhirnya kita menyadari bahwa tugas memperbaiki negeri ini bukanlah tugas pemerintahan semata, namun juga tugas kita semua sebagai anak bangsa.

*

Mengapa ada bangsa yang mengalami percepatan pertumbuhan lebih cepat, sementara itu, ada bangsa yang tumbuh melambat.

Salah satu yang Saya temukan adalah ketiadaan narasi dalam benak anak negeri secara kolektif. Kita tidak punya gagasan untuk tumbuh. Kita tidak memiliki narasi yang jelas untuk menjadi negara kuat. Dan ini sekali lagi bukan tugas pemerintah, namun merupakan PR bersama kita sebagai anak bangsa.

Park Chung-Hee baru selesai konflik Korsel-korut di 1970. Negeri Korea Selatan baru saja gencatan senjata. Lelah bertempur terus. Akhirnya Park Chung-Hee membangun narasi : Semaul Undong. Gerakan Desa. Setiap titik daerah di Korea Selatan harus maju. Mereka membangun narasi pembangunan dari daerah.

Tidak berhenti sampai disana, Korea Selatan membangun patung Laksamana Yi Sun-Sin. Seorang admiral yang menghempaskan 330 kapal Jepang Khurushima Jepang dengan bermodalkan kekuatan 13 kapal. Saya menatap patung ini di tengah taman kota Seoul, dan merasakan sebuah narasi besar : bahwa dengan keterbatasan, mereka bisa mengalahkan Jepang.

Narasi ini hidup di setiap orang Korsel, di setiap pengusahanya, mahasiswanya, pekerjanya, bahwa mereka punya narasi kemenangan. Bahwa mereka pernah menang atas Jepang di Selat Myongyang. 1597 silam. Inilah yang membuat Samsung mengejar Panasonic. LG mengejar Sony. Dan Hyundai mengejar Toyota. Ada narasi di jiwa mereka.

*

Mahathir Mohammad menulis buku berjudul The Malay Dilemma. Sebuah buku yang ditulis tahun 1970, 11 tahun sebelum beliau berhasil menjabat menjadi perdana menteri Malaysia di 1981.

Narasi Mahathir berisi tentang kesukaran kaum melayu Bumiputera Malaysia dalam mengambil sikap. Terdapat kesulitan situasi yang terjadi, Di satu sisi terjadj ketidak seimbangan penguasaan ekonomi oleh ras non melayu, tetapi disisi lain, Mahathir juga mendukung kehidupan damai berdampingan. Maka ditulislah berbagai pemikiran beliau dalam buku tersebut. Sebuah jalan kebangkitan bagi Melayu Malaysia dengan tetap dapat hidup berdampingan.

No comments:

Post a Comment